Ada kesalahan di dalam gadget ini

Facebook Share

Selasa, 07 Juni 2011

4 Cara Menolong Korban Serangan Jantung


img

Serangan jantung bisa menyerang siapa saja dan dimana saja. Jika Anda mencurigai atau melihat seseorang yang mengalami serangan jantung, tindakan cepat dapat menolong menyelamatkan nyawanya. Simak langkah-langkah pertolongan pertama ini.

Dikutip dari BBC, serangan jantung merupakan kondisi dimana salah satu pembuluh arteri yang membawa darah tersumbat, biasanya hal ini disebabkan oleh gumpalan darah. Risiko utama dari kondisi ini akan membuat jantung berdetak tidak normal dan bahkan berhenti.

American Heart Association (AHA) mencatat lebih dari 1 juta orang mengalami serangan jantung setiap tahun dan setengahnya meninggal karena serangan jantung tersebut. Oleh karena itu, penting bagi semua orang untuk mengetahui bagaimana cara menyelamatkan orang yang terkena serangan jantung, seperti yang dikutip dari 
Detikhealth.

1. Dudukkan atau baringkan. Jika pria, buka ikat pinggang yang sedang ia kenakan, jika wanita buka bra miliknya agar ia bisa bernafas lebih lega.

2. Berikan aspirin jika ia tidak punya alergi. Aspirin akan membantu mengencerkan darah yang menggumpal dan membantu darah tetap mengalir ke arteri. Mengunyah aspirin selama serangan jantung bisa menurunkan risiko kematian hingga 25 persen.

3. Langsung telepon nomor darurat atau rumah sakit lalu jelaskan gejala yang dialami secara singkat dan jelas, seperti "pasien mengalami sakit dada yang parah dan kesulitan bernafas".

4. Usahakan untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Waktu 1 jam sampai 90 menit sejak terkena serangan jantung sampai perjalanan ke rumah sakit diharapkan masih bisa memberikan pertolongan kepada orang yang terkena serangan jantung itu.

Waktu 1 jam dianggap kritis karena berdasarkan pengalaman dokter yang menangani pasien serangan jantung, kebanyakan orang tidak tertolong pada 1 jam pertama serangan jantung. Rata-rata pasien serangan jantung meninggal karena keterlambatan pertolongan, beratnya serangan yang terjadi dan masalah kemampuan pasien untuk operasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar